Jumat, 14 April 2017

Sebuah keniscayaan II

Malam ini masih tentangmu, puan
Yang melemahkan sendi-sendi pijar sehabis hujan
Yang mengantar kerinduan dan keresahan
Yang membisukan kata-kata mesra
Diiringi petikan dawai kecapi

Saat kita sedia untuk saling melupa
Dengan keingin tidak tahuannya
Dengan ruang semesta satu sama lain
Dengan puisi-puisi yang ku tulis
Lalu kau meminta untuk tidak saling menyembuhkan

Mengenang awal perjumpaan manis yang melekat di kepalaku, nona
Kita begitu meriah merayakan senja yang sempat pergi ke kota
Cahaya-cahaya merangkul mesra gembira
Menanti kepulangan bias jingga hapuskan luka

Sayang
kau boleh mencaci senjamu
Jika yang ia berikan hanya derita
Kau boleh kutuki jinggamu
Jika sebuah semoga tak kunjung tiba

Terbenamlah sesak rindu dibalut senja
Aku tahu bahwa keabadian hanya milik penciptanya
Tak ada kehakiki-an yang abadi
Bahkan senja pun tak tahu, esok ia akan se-jingga apa
Seperti dalam buku yang ku baca, dan
Aku yakini itu sebagai keniscayaan

-Ridwan F Fauzi-