Matahari tenggelam itu istimewa Menggelapkan apa-apa di belahan bumi satu Terbit menerangi apa-apa di belahan bumi yang lainnya
Jumat, 16 September 2016
Sajak Sore dalam Naskah
Sore itu.
Tak banyak waktu senggang yang ku punya.
Mencoba menulis bait dalam sajak
Bukan untuk merayumu, perempuanku.
Hanya untuk mencumbu pada susunan huruf
Menumpahkan sedikit isyarat dalam benak
Dan (lagi). Selalu kamu, yang menghidupi puisi si penyair amatir ini.
-Ridwan F Fauzzi-
Kamis, 15 September 2016
~
Terimakasih semesta
Semoga kau terjaga dalam gelapnya
Semoga kembali memberi cahaya dalam harapnya.
Boleh titip rindu buat perempuanku ?
Ingin ku rebah di peluknya lebih dalam atas lelah
Jika. Semoga..
Itu saja.
-Ridwan F Fauzzi-
Jumat, 09 September 2016
Semesta pada orang-orang baik
Gagasan, pun inspirasi bermula dari kedai kopi. Hingga ide-ide tercipta, termasuk menulis dan hal-hal positif lainnya.
Dua buku hebat ini, Pejalan Anarki karya mas Jazuli Imam dan Bara karya kang Febrialdi yang mempunyai andil besar menginspirasi saya.
Semoga banyak para pejalan yang rela menuntun pejalan lainnya ke hal yang lebih manusiawi dalam mencintai alam dan sesama.
Salam hormat, lestari lan rahayu...
-Ridwan F Fauzzi-
Kamis, 08 September 2016
Kita tidak akan pernah tahu akan sampai sejauh mana perjalanan kita nanti
Do'akan aku yang sedang melewati fase kepahitan ini, Bu..
Semoga kau selalu dalam lindungannya dan tak pernah putus doa dalam kekhusyuanku, hingga aku bisa meninggalkan semua perjalanan hidup dengan perasaan baik-baik saja
Salam hormat, berkah, salamet, bagja, waluya, mulus lan rahayu
Selamat hari lahir yang ke 46
16 Juni 2016
-Ridwan F Fauzzi-
Terjajah Bawah
Udara sejuk, keheningan, saling sapa sesama, kedamaian yang hakiki, itu yang aku tak dapatkan disini, di kota yang begitu menguras otak dan tenaga bagi sebagian orang yang mengabdikan dirinya untuk hasrat dunia .
Sudah tidak ada lagi ruang tersisa bagi burung burung untuk pulang
Yang ada hanya tembok bangunan gagah tinggi menjulang, suara bising dari knalpot, udara yang terkontaminasi, teriakan beradu argumentasi sesama wakil hanya karena hal yang sepele.
Semoga Tuhan tidak murkai hambanya
-Ridwan F Fauzzi-
Sudah tidak ada lagi ruang tersisa bagi burung burung untuk pulang
Yang ada hanya tembok bangunan gagah tinggi menjulang, suara bising dari knalpot, udara yang terkontaminasi, teriakan beradu argumentasi sesama wakil hanya karena hal yang sepele.
Semoga Tuhan tidak murkai hambanya
-Ridwan F Fauzzi-
Sepi kau, Perindu
"Memilukan memang, kini hanya aku, kopi dan sebutir malam temaram
Sepeninggal dirimu, aku hanya seorang perindu yang malang
seseorang yang dipecundangi bisingnya kota dan,
Setiap perjalanan dilucuti gedung tinggi bertingkat
Semua sangat mengerikan jika kau melihat kehidupan kota seperti ini
Di malam. Aku pernah membayangkan, akan serumit apa kita nanti
Oleh ribuan buih rindu yang menyusuri tiap sisi hati
Aku rindu suara bisikanmu yang setiap harinya kudapatkan itu
Menyadari kau yang entah dimana sekarang
Aku hanya bisa melangitkan doa meng-angkasa-kan harapan
Semoga kau dijaga sang maha segala di setiap hela nafas
Buatmu, Ar.
Dariku, Si perindu yang kesepian..." .
-Ridwan F Fauzzi-
Sepeninggal dirimu, aku hanya seorang perindu yang malang
seseorang yang dipecundangi bisingnya kota dan,
Setiap perjalanan dilucuti gedung tinggi bertingkat
Semua sangat mengerikan jika kau melihat kehidupan kota seperti ini
Di malam. Aku pernah membayangkan, akan serumit apa kita nanti
Oleh ribuan buih rindu yang menyusuri tiap sisi hati
Aku rindu suara bisikanmu yang setiap harinya kudapatkan itu
Menyadari kau yang entah dimana sekarang
Aku hanya bisa melangitkan doa meng-angkasa-kan harapan
Semoga kau dijaga sang maha segala di setiap hela nafas
Buatmu, Ar.
Dariku, Si perindu yang kesepian..." .
-Ridwan F Fauzzi-
Rabu, 07 September 2016
Terjemahan
Ah aku hanya penyair amatir
Yang mencoba menerjemahkan perasaan dengan susunan huruf saja
Aku ingin menumpahkan segala kerinduan lewat puisi dan sajakku
Karena,,,
Kata-kata dalam puisi adalah api dari keberanian
Dan kita adalah, Nona......
Pemilik hati yang tak tahu sampai kapan merindu
-Ridwan F Fauzzi-
Yang mencoba menerjemahkan perasaan dengan susunan huruf saja
Aku ingin menumpahkan segala kerinduan lewat puisi dan sajakku
Karena,,,
Kata-kata dalam puisi adalah api dari keberanian
Dan kita adalah, Nona......
Pemilik hati yang tak tahu sampai kapan merindu
-Ridwan F Fauzzi-
Apa ?
Bukan bermaksud untuk apa-apa
Dengan menjadikan senja apa-apa
Hanya saja senja itu apa-apa
Dari apa-apa yang aku apa-apakan
-Ridwan F Fauzzi-
Dengan menjadikan senja apa-apa
Hanya saja senja itu apa-apa
Dari apa-apa yang aku apa-apakan
-Ridwan F Fauzzi-
Telaga Senja
Jingga menggantung dipelupuk mata
Lalu ku lihat kau menggendong senja ke tepi telaga
Aku duduk di bangku saat sela jeda
Mencoba meramu pilu menjadi tawa
Katamu....
Kau akan kembali selepas mentari pulang
Tapi kau hilang di balik alang
Aku rindu kau benahi letak bintang
Bukan di belantara kota tak tenang
Kedamaian yang kau buat di batinku, Ar....
Tepi telaga kala itu .
-Ridwan F Fauzzi-
Lalu ku lihat kau menggendong senja ke tepi telaga
Aku duduk di bangku saat sela jeda
Mencoba meramu pilu menjadi tawa
Katamu....
Kau akan kembali selepas mentari pulang
Tapi kau hilang di balik alang
Aku rindu kau benahi letak bintang
Bukan di belantara kota tak tenang
Kedamaian yang kau buat di batinku, Ar....
Tepi telaga kala itu .
-Ridwan F Fauzzi-
Selasa, 06 September 2016
Menanti Pejalan Pulang
Aku rindu,,
Tentangmu, hela nafasmu, juga keberadaanmu
Dari semalaman mataku terjaga
Di temaramnya cahaya lilin yang hingga meleleh lantas mengeras di kamarku
Pulanglah kekasih,,
Akan ku buatkan kopi untukmu
Kopi yang tak akan pernah tersaji di kedai manapun
Dan entah, aku selalu saja membayangkan hal-hal yang paling mungkin ku lakukan bersamamu
Begini puan,
Aku membuatkan kau kopi, lalu menyajikannya di meja di sudut ruangan
yang dindingnya berhiaskan gambar dan kata-kata perlawanan kepada sikap yang tidak manusiawi
Di sudut lain, terpajang foto-fotoku sehabis berperjalanan panjang bersamamu
Lalu diiringi lagu sendu favoritmu
Bercahayakan temaramnya lampu khas romansa sepasang kekasih yang entah darimana asalnya
Dari kejauhan terlihat, kau membaca buku yang ku rasa tentang tokoh aktivis yang menentang kediktatoran penguasa negeri
Hingga ku sampai tempat di mana kau duduk dan tersajilah satu cangkir kopi di meja
Kau benahi letak dudukmu agar merasa lebih nyaman, dengan sedikit berbisik lalu ku bilang ;
"...silahkan puan, ini untukmu.
dariku yang berada di tempat paling sunyi
yang ku buat dengan cinta, kasih dan sayang
serta bisikan hangat menenangkan..."
Begitulah Ar, aku sambil membayangkannya dengan secangkir kopi di satu tanganku
Tanganku yang satu, menuliskan susunan huruf di kaldera dengan jariku.
Dan dengan ini ku kirimkan salam rinduku untukmu kekasih.
Hati-hati di kehidupan. Aku selalu menantikan saat dimana kau bersandar
Aku, di terjalnya kehidupan ..
(Ridwan F Fauzzi)
Langganan:
Postingan (Atom)




