Minggu, 19 Februari 2017

Kata


Apa yang kau cari dalam puisi yang ku tulis?
Dirimu? Kehilangan? Atau pada suatu ketika?
Tiap bait yang ku tulis adalah dirimu
Yang tak pernah ku temukan lewat tatap senja

Sepertinya jemari akan menari-nari mengeja tiap tentangmu-- dengan kertas usang yang menjadi muara dari tinta itu.
Beberapa cangkir kopi tanpa gula menjelma inspirasi
Malam senyap kawani tiap beberapa batang kretek yang ku sesap

Bayangan cangkir kopi dari lentera yang ku nyalakan
Menyulut kerinduan yang tak kunjung usai
Bagaimana ini, sayang?
Hingga lentera padam, tak ada kata-kata yang ku tulis.
Satu, dua, tiga cangkir kopi yang ku minum tak ada jemari yang menari diatas kertas

Kemudian pagi datang.
Ku lihat meja tulisku sudah rapi.
Tak ada cangkir, tak ada kertas, tak ada apa-apa
Kemudian ku lihat langit dari jendela
Nyanyian burung yang tanpa takut akan kokangan senapan, melepaskan beban rinduku semalaman

Aku lantas pergi keluar
Aku bicara pada diriku sendiri;
"Marilah kata-kata, bersamaku kita jemput kehilangan"
(rff-)

Jumat, 17 Februari 2017

Hilang



Selepas hujan malam ini
Bulan menjelma bola matamu
Merapikan diri dibalik apa-apa yang menutupi celah cahayanya
Ku bayangkan diriku tidur di pelupuknya
Aku tenggelam dalam lelap
Lalu dimuntahkan mimpi

Kemudian menuju pagi
Bola mata itu menjelma menjadi kerinduan
Ku seduh satu cangkir kopi hangat kawani halimun
Akhirnya aku pergi ke kamar
Aku menemukanmu terbaring di kamarku
Lelagu sendu yang mungkin kau putar, tak sempat kau matikan
Buku-buku tercecer di atas ranjang

Belum usai ku rapihkan kamarku, kau hilang
Dan--
Memang benar
Ternyata puisi tidak menyelamatkan apapun
Dalam debu yang ku sapu
Ku tak sempat ucapkan selamat tinggal, sekali lagi

RED (rff)
Tengah Sunyi, 18 Februari 2017

Jumat, 03 Februari 2017

Buatmu, ...



Untukmu yang pernah singgah
Tempat ternyaman berkeluh kesah
Pelabuhan curah segala resah

Apa kabarmu sayangku?
Masihkah aku sebagai apa-apa yang kamu pikirkan?
Kau tahu, kerinduan terus merangkul-ku?
Tak bisa ku melepaskan dari genggamannya.
Rasa resahku memuncak, kemudian menukik tajam menghempas apa-apa ke tempat ku terjatuh.
Ketika kau tinggalkan semua
Kau lepaskan genggam jariku
Kau terus berjalan tanpa sedikitpun membalikan tubuhmu untuk sekedar tanda perpisahan

Aku membayangkan mereka yang memang sudah berteman dengan kehilangan
Jika kehilangan menurut mereka sebuah kebiasaan, aku ingin menyertakan diri sebagai mereka.

Manisku..
Aku sedia menjadi dermaga untuk kapalmu berlabuh
Akan ku kaitkan kapalmu dengan apa-apa yang ku punya
Agar tak terbawa angin menuju laut tak berkesudahan

Mari sini cintaku..
Bahu ini adalah tempat ternyamanmu bersandar
Tangan ini yang akan menuntunmu di perjalanan, dan
Tubuh ini, sedia memberi pelukan serta menjadi rumah untukmu pulang.

Bandung, 3 Februari 2017
(RED; rff)