Rabu, 28 Desember 2016

Puisi Cinta - Soe Hok Gie

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah.
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza.
Tapi, aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku.
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu.
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mendalawangi.

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang.
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra.
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu.

Mari sini, sayangku..
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung.
Kita tak pernah menanamkan apa-apa.
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa.

-Soe Hok Gie-
Selasa, 11 November 1969

Selasa, 27 Desember 2016

Perindu

Padamu wanitaku.
Pada angin yang memeluk mesra setiap mata.
Ada kabar baikkah dirimu sayangku?
Sertakah aku disetiap lakumu?
Rindu ini terlalu merangkul erat batinku yang tenang.
Aku selalu rindu kau membenahi letak sandaran di bahumu.
Ketika aku lelah, ketika aku kalah pada keegoisanku.
Rindu berkisah tentang apa- apa yang kita lalui bersama.
Tentang hujan, awan, embun, senja serta anak-anak kita yang lucu di masa depan.
Semoga kita bertemu di lembah kebahagiaan yang abadi, kasihku.
Jangan terus melarikan diri dari apa yang kita tuju.
Karena hidup adalah sebuah perjalanan, bukan tentang pelarian.
Sudah dulu ya sayangku.
Aku mau tuntaskan sedikit sajak pada bait terakhir di senja sore ini.
Salam cinta, kasih dan sayang pada perempuanku yang entah sesiapa kelak.
Karena ini hanya imajiku saja. Yang selalu berharap menjadi sebuah kenyataan.
Dariku, yang selalu rindu cium keningmu.
Red (rff).

Jatinangor, 27 Des 2016

Minggu, 27 November 2016

Program #satucangkirsatubuku



Bismillah. Assalamualaikum.
Salam sejahtera untuk kita semua.
Om swastiastu.
Tepat hari ini tanggal 28 November 2016 "Sendja Coffee" beganti brand atau nama menjadi "dieu ngopi!".
Kenapa kita memakai nama tersebut. Karena nama itu adalah sebuah ajakan atau panggilan agar lekas merapatkan lingkaran untuk saling mengikatkan batin dan pikiran untuk hal yang lebih manfaat dan manusiawi. Dan dengan secangkir kopi pula dapat mempererat tali silaturahmi dan mempertemukan antara orang satu dengan lainnya secara tak terduga dan meningkatkan kepedulian.
Warung kopi "dieu ngopi!" adalah salah satu program usaha kerja "Kala Senja".
Izinkan saya untuk mengenalkan. "Kala Senja" sendiri adalah satu keluarga kecil atau wadah berkumpulnya para sedulur yang bergerak di bidang sosial atau peduli terhadap sesama dan alam.
Semoga dengan nama warung kopi dan lebel yang baru akan membawa keberkahan bagi kita.
Dengan niat tulus untuk menyebarkan, menebarkan, menaburkan kebaikan dan turut membantu para pejalan mengkampanyekan #satucangkirsatubuku atau mendonasikan setiap satu orang satu buku agar anak-anak di Indonesia dapat membaca dan mengenal dunia dan meningkatkan kesadaran pentingnya membaca untuk kecerdasan bangsa. Karena saya percaya, mereka tidak sendirian.
Terimakasih sudah mendukung kita secara materil, moril, pikiran dan juga tenaga dalam mewujudkan program ini.
Salam hormat dan lestari.
#kopidonasi
#dieungopi
#kalasenjafoundation

-Ridwan F Fauzzi-

Kamis, 17 November 2016

Lengkung Langit di Lengkung Bibirmu



Padamu langit
Tak terukur indahnya
Cinta darimu

Padamu langit
Menatapmu bersemi damai terdalam
Merawat rindu cinta yang terurai air mata


(Dialog Dini Hari - Lengkung Langit)

Kamis, 06 Oktober 2016

Ah apalah. Ck!



Kau tahu ?
Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu, Ar ?
Dengan apa-apa yang kita punya.
Rumah kecil, remang malam, alunan angin membelai dedaunan, beberapa cangkir kopi, bercerita beberapa kisah.

Kau tahu ?
Aku ingin menghabiskan sisa waktuku bersamamu, Ar ?
Yang semua orang tak pernah punya yang kita punya.
Cerita di tepian telaga, merasakan sendunya senja, menikmati syahdunya kabut, merangkak di tebing-tebing tak bernama.

Hmmmmm..

Arumi, wanitaku...
Kau adalah salah satu diantara apa-apa yang ku punya
Yang akan ku tulis dalam bait sajak
Yang akan ku lantunkan dalam nyanyian kala hening
Yang akan ku buat mereka iri dengan cerita kita

Selalu ku langitkan doa-doa yang membantumu terjaga
Tak bosan ku sebut namamu saat bersama gunung gunung
Tak pernah bosan ku ceritakan kisah kita saat beberapa kali ku temui Ranu Kumbolo

Percayalah kasih..
Keindahan dan kedamaian yang mereka punya,
salah satunya pada kita.

Semoga kabarmu baik disana
Tetap saja ku tunggu kau pulang


-Ridwan F Fauzzi-

Jumat, 16 September 2016

Sajak Sore dalam Naskah



Sore itu.
Tak banyak waktu senggang yang ku punya.
Mencoba menulis bait dalam sajak
Bukan untuk merayumu, perempuanku.
Hanya untuk mencumbu pada susunan huruf
Menumpahkan sedikit isyarat dalam benak
Dan (lagi). Selalu kamu, yang menghidupi puisi si penyair amatir ini.


-Ridwan F Fauzzi-

Kamis, 15 September 2016

~



Terimakasih semesta
Semoga kau terjaga dalam gelapnya
Semoga kembali memberi cahaya dalam harapnya.
Boleh titip rindu buat perempuanku ?
Ingin ku rebah di peluknya lebih dalam atas lelah
Jika. Semoga..
Itu saja.

-Ridwan F Fauzzi-

Jumat, 09 September 2016

Semesta pada orang-orang baik


Gagasan, pun inspirasi bermula dari kedai kopi. Hingga ide-ide tercipta, termasuk menulis dan hal-hal positif lainnya.
Dua buku hebat ini, Pejalan Anarki karya mas Jazuli Imam dan Bara karya kang Febrialdi yang mempunyai andil besar menginspirasi saya.
Semoga banyak para pejalan yang rela menuntun pejalan lainnya ke hal yang lebih manusiawi dalam mencintai alam dan sesama.
Salam hormat, lestari lan rahayu...

-Ridwan F Fauzzi-

Kamis, 08 September 2016



Kita tidak akan pernah tahu akan sampai sejauh mana perjalanan kita nanti

Do'akan aku yang sedang melewati fase kepahitan ini, Bu..
Semoga kau selalu dalam lindungannya dan tak pernah putus doa dalam kekhusyuanku, hingga aku bisa meninggalkan semua perjalanan hidup dengan perasaan baik-baik saja

Salam hormat, berkah, salamet, bagja, waluya, mulus lan rahayu

Selamat hari lahir yang ke 46
16 Juni 2016

-Ridwan F Fauzzi-

Terjajah Bawah

Udara sejuk, keheningan, saling sapa sesama, kedamaian yang hakiki, itu yang aku tak dapatkan disini, di kota yang begitu menguras otak dan tenaga bagi sebagian orang yang mengabdikan dirinya untuk hasrat dunia .

Sudah tidak ada lagi ruang tersisa bagi burung burung untuk pulang
Yang ada hanya tembok bangunan gagah tinggi menjulang, suara bising dari knalpot, udara yang terkontaminasi, teriakan beradu argumentasi sesama wakil hanya karena hal yang sepele.
Semoga Tuhan tidak murkai hambanya

-Ridwan F Fauzzi-

Sepi kau, Perindu

"Memilukan memang, kini hanya aku, kopi dan sebutir malam temaram
Sepeninggal dirimu, aku hanya seorang perindu yang malang
seseorang yang dipecundangi bisingnya kota dan,
Setiap perjalanan dilucuti gedung tinggi bertingkat
Semua sangat mengerikan jika kau melihat kehidupan kota seperti ini

Di malam. Aku pernah membayangkan, akan serumit apa kita nanti
Oleh ribuan buih rindu yang menyusuri tiap sisi hati
Aku rindu suara bisikanmu yang setiap harinya kudapatkan itu

Menyadari kau yang entah dimana sekarang
Aku hanya bisa melangitkan doa meng-angkasa-kan harapan
Semoga kau dijaga sang maha segala di setiap hela nafas

Buatmu, Ar.
Dariku, Si perindu yang kesepian..." .

-Ridwan F Fauzzi-

Rabu, 07 September 2016

Pagi yang tidak baik-baik saja


Terjemahan

Ah aku hanya penyair amatir
Yang mencoba menerjemahkan perasaan dengan susunan huruf saja
Aku ingin menumpahkan segala kerinduan lewat puisi dan sajakku
Karena,,,
Kata-kata dalam puisi adalah api dari keberanian
Dan kita adalah, Nona......
Pemilik hati yang tak tahu sampai kapan merindu

-Ridwan F Fauzzi-

Apa ?

Bukan bermaksud untuk apa-apa
Dengan menjadikan senja apa-apa
Hanya saja senja itu apa-apa
Dari apa-apa yang aku apa-apakan

-Ridwan F Fauzzi-

Telaga Senja

Jingga menggantung dipelupuk mata
Lalu ku lihat kau menggendong senja ke tepi telaga
Aku duduk di bangku saat sela jeda
Mencoba meramu pilu menjadi tawa

Katamu....
Kau akan kembali selepas mentari pulang
Tapi kau hilang di balik alang
Aku rindu kau benahi letak bintang
Bukan di belantara kota tak tenang

Kedamaian yang kau buat di batinku, Ar....
Tepi telaga kala itu .


-Ridwan F Fauzzi-

Selasa, 06 September 2016

Menanti Pejalan Pulang






Aku rindu,,
Tentangmu, hela nafasmu, juga keberadaanmu
Dari semalaman mataku terjaga
Di temaramnya cahaya lilin yang hingga meleleh lantas mengeras di kamarku

Pulanglah kekasih,,
Akan ku buatkan kopi untukmu
Kopi yang tak akan pernah tersaji di kedai manapun
Dan entah, aku selalu saja membayangkan hal-hal yang paling mungkin ku lakukan bersamamu

Begini puan,
Aku membuatkan kau kopi, lalu menyajikannya di meja di sudut ruangan
yang dindingnya berhiaskan gambar dan kata-kata perlawanan kepada sikap yang tidak manusiawi
Di sudut lain, terpajang foto-fotoku sehabis berperjalanan panjang bersamamu
Lalu diiringi lagu sendu favoritmu
Bercahayakan temaramnya lampu khas romansa sepasang kekasih yang entah darimana asalnya
Dari kejauhan terlihat, kau membaca buku yang ku rasa tentang tokoh aktivis yang menentang kediktatoran penguasa negeri

Hingga ku sampai tempat di mana kau duduk dan tersajilah satu cangkir kopi di meja
Kau benahi letak dudukmu agar merasa lebih nyaman, dengan sedikit berbisik lalu ku bilang ;

"...silahkan puan, ini untukmu.
dariku yang berada di tempat paling sunyi
yang ku buat dengan cinta, kasih dan sayang
serta bisikan hangat menenangkan..."

Begitulah Ar, aku sambil membayangkannya dengan secangkir kopi di satu tanganku
Tanganku yang satu, menuliskan susunan huruf di kaldera dengan jariku.

Dan dengan ini ku kirimkan salam rinduku untukmu kekasih.
Hati-hati di kehidupan. Aku selalu menantikan saat dimana kau bersandar

Aku, di terjalnya kehidupan ..


(Ridwan F Fauzzi)